Katon Bagaskara – Wajah Tersenyum

Wajah tersenyum
dari dasar batin terdalam
menggenang haru
karena saatnyapun tiba
kusematkan tanda kasih dijarimu
sayangku, engkau jadi milikku

angin menerpa
kabut putih sebersih jiwa
daun mendesah
prana dihela suasana
dan perlahan kukecup lembut bibirmu
bisik kata, “setia slamanya”
(sayang engkau milikku)

jalan panjang di muka
kadang berliku dan curam
genggam tangan bersama
kan kita lalui

bau rumputan
menghantar pagi hening tenang
tersunting sudah
dua hati dalam buaian
smoga kian bersemi tersemat waktu
slalu aku mendamba dirimu

Katon Bagaskara – Usah Kau Lara Sendiri

Kulihat mendung menghalangi pancaran wajahmu
Tak terbiasa kudapati terdiam mendura
Apa gerangan bergemuruh di ruang benakmu
Sekilas galau mata ingin berbagi cerita

Kudatang sahabat bagi jiwa saat bathin merintih
Usah kau lara sendiri masih ada asa tersisa

Letakkanlah tanganmu di atas bahuku
Biar terbagi beban itu dan tegar dirimu
Di depan samar cahya kecil tuk memandu
Tak hilang arah kita berjalan menghadapinya

Sekali sempat kau mengeluh kuatkah bertahan
Satu persatu jalinan kawan berajak menjauh
Kudatang sahabat bagi jiwa saat bathin merintih
Usah kau lara sendiri masih ada asa tersisa

Tak hilang arah kita berjalan menghadapinya
Usah kau simpan lara sendiri


Katon Bagaskara – Tidurlah Tidur

Ohh…di kedalaman tidurmu
Kau tersenyum lugu
Hmm…mendekap damai dan tak berdosa

Ku..belai gelombang rambutmu
Menitipkan kasih sayang
Semoga berlimpah ruah bahagia
Kita reguk bersama

Tidurlah tidur bidadari kecilku
Setelah lelah kau bermain
Mimpikan dirimu dalam istana
Menari (lincah dan bernyanyi merdu) penuh suka

Dan kukecup lembut keningmu
Rasa haru luluh jua
Jangan dulu terjaga sampai pagi tiba
Menjemput hari

Tidurlah tidur bintang kesayanganku
Bersinar menerangi sukma
Engkaulah juga yang jadi alasan
Hingga kupacu semangat hidup menyimpan harapan

Kelak satu saat nanti kau beranjak dewasa
Pilihlah jalan lurus nan murni tempatmu melangkah
Menuju cita mengenggam asa
Kau tentukan warna tuk hidupmu
Sejak dari mula lebih baik kau jaga langkah
Berbekal waspada

Katon Bagaskara – Selembut Awan

Cinta selembut awan
Masih tersimpan di hati
Pesonamu menawan
Ku dilanda sepi
Mengapa hanya padamu
Tercurah seluruh rasa
Hadir di setiap nafasku
Bayangmu menyapa

Meskipun ku tahu dirimu kini
Tiada lagi sendiri
Namun ku tak rela melepas segala mimpi
Oh… Mengapa hanya dirimu
Yang mampu mengisi hampa sanubari?
Kini ku mengerti
Cintaku hanya lamunan
Kisah kita berakhir
Menjadi kenangan

Katon Bagaskara – Seketika

Uhh… tak kau dengarkah irama jantungku
Syubidudadidudiduda ……
Senandung lagu yang belu kau tau

Semua itu cetusan sanubari
Setelah sekian lama memendam hari
Tak kusadari mesti tergali kembali
Kenangan denganmu

Uhh…kulihat binar di bola matamu
Sepintas cukup bercerita
Tentang riuhnya gejolak rindumu
Di saat kesenjangan hubungan kita
Ternyata sang waktu memaksa berjumpa
Tapi mengapa hanya nostalgia yang ada
Mengurung benakku..kuharu

Seketika kumerindu, kurindukan bayangmu
Mengusik lagi tidurku, seiring senyumanmu
Karna kuyakin kaupun rindu
Biar kurajut malam nanti ‘tuk memimpikanmu
Lalu kubawa batin ke hari-hari berlalu

Uhh..Jika dulu kita coba mengerti
Mestinya tak perlu terjadi
Segala pertikaian melanda hari
Tetapi jauh di lubuk batin ini
Ternyata asa tetap panas menyala
Kuberanikan diri kini tuk bertanya
Sudikah dikau kembali bersatu

Katon Bagaskara – Sampai Kapan

Masih saja angkuh lagak lakumu
Lewat didepanku seolah ‘ku tak disitu
Rangkaian mawar merah ini untukmu
Berikan sedikit senyum penawar rindu

Betapa kujaga penampilanku
Setidaknya mampu menarik simpatimu
Dan bicara keras hal hal yang lucu
Kau tetap tak acuh hilang meninggalkanku

Sampai kapan ‘ku
Tak tahu untuk meraih hatimu begitu menyita waktu

Semua cara aku coba menaklukkannya, ya
Nona hingga hilang akalku
Sampai kapan ‘ku tak tahu untuk menggapai
Cintamu terlalu lama menunggu

Masih saja ayu paras wajahmu
Meski tak sebanding dengan garis pribadimu
Masih saja lugu gaya sikapku
(Sementara kau seolah tak perduli pada apa yang kulakukan selama ini)

Izinkan swaramu barang sedikit terucap
Merdu memanggil namaku, woo woo
Dengarlah degupan jantung berpacu
Menunggu datang cintamu berlabuh
Oh Tuhan tolong aku


Katon Bagaskara – Sampai Kapan

Masih saja angkuh lagak lakumu
Lewat didepanku seolah ‘ku tak disitu
Rangkaian mawar merah ini untukmu
Berikan sedikit senyum penawar rindu

Betapa kujaga penampilanku
Setidaknya mampu menarik simpatimu
Dan bicara keras hal hal yang lucu
Kau tetap tak acuh hilang meninggalkanku

Sampai kapan ‘ku
Tak tahu untuk meraih hatimu begitu menyita waktu

Semua cara aku coba menaklukkannya, ya
Nona hingga hilang akalku
Sampai kapan ‘ku tak tahu untuk menggapai
Cintamu terlalu lama menunggu

Masih saja ayu paras wajahmu
Meski tak sebanding dengan garis pribadimu
Masih saja lugu gaya sikapku
(Sementara kau seolah tak perduli pada apa yang kulakukan selama ini)

Izinkan swaramu barang sedikit terucap
Merdu memanggil namaku, woo woo
Dengarlah degupan jantung berpacu
Menunggu datang cintamu berlabuh
Oh Tuhan tolong aku


Katon Bagaskara – Ruang Hampa

Menatap rinai titik hujan
yang luruh ke bumi
melepas nafas panjang
dinginnya hawa terasa
Aku masih saja
tercenung dalam gulana
separuh jiwaku
seolah menghilang
berkali musim berganti
t’lah kulewati sendiri
sampai saatnya tiba
kuingin melepaskan luka aha..

Ada ruang hampa di hati
mengharap terisi
Ternyata aha..
seorang lelaki tegarpun tak kuasa
bertahan menanggung sepi

Menatap cakrawala
haru kulihat pelangi
seusai badai
semoga angin lembut membelai
Pikiran melayang
betapa kini kubutuh
wanita setia yang berlindung di dada
memberi setangkup kasih
mengaliri urat darahku
sampai dunia berakhir
tak sekalipun dia berpaling

Hasratku
semua lembaran kelabu
‘kan segera digurat warna aha..
digurat rasa aha..
ingin melepaskan luka
Kurasa

Katon Bagaskara – Pasangan Jiwa

Kadangkala aku bertanya di mana cinta berada
Tersembunyi tiada kunjung menghampiri
Dua angsa memadu rindu di danau biru bercumbu
Pagut sepi ku di sini letih hati

Begitu jauh waktu kutempuh
Sendiri mengayun biduk kecil
Hampa berlayar, akankah berlabuh
Hanya diam menjawab kerisauan

Kadangkala aku berkhayal seorang di ujung sana
Juga tengah menanti tiba saatnya

Begitu ingin berbagi batin
Mengarungi hari yang berwarna
Di mana dia pasangan jiwaku
Ku mengejar bayangan

Begitu jauh waktu kutempuh
Sendiri mengayun biduk kecil
Hampa berlayar, akankah berlabuh
Hanya diam menjawab kerisauan

Aku berkhayal… Oh…

Begitu ingin berbagi batin
Mengarungi hari yang berwarna
Di mana dia pasangan jiwaku
Ku mengejar bayangan, kian menghilang

Biduk kecil hampa berlayar, akankah berlabuh
Hanya diam menjawab kerisauan, oh…

Katon Bagaskara – Negeri Di Awan

Di bayang wajahmu
Kutemukan kasih dan hidup
Yang lama lelah aku cari
Dimasa lalu

Kau datang padaku
Kau tawarkan hati nan lugu
Selalu mencoba mengerti
Hasrat dalam diri

Kau mainkan untukku
Sebuah lagu tentang negeri di awan
Dimana kedamaian menjadi istananya
Dan kini tengah kaubawa
Aku menuju kesana

Ternyata hatimu
Penuh dengan bahasa kasih
Yang terungkapkan dengan pasti
Dalam suka dan sedih


Next Page »